h1

Peranan Sosiolinguistik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Orang Asing

Juni 21, 2009

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia. Banyak para ahli yang memberikan defenisi tentang bahasa. Salah satunya yaitu Harimurti Kridalaksana (1993:21) menyatakan bahwa bahasa adalah system lambing bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Sosiolinguistik menurut Harimurti Kridalaksana (1993:201) adalah cabang linguistic yang mempelajari hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku social.

Berbahasa merupakan kegiatan manusia setiap saat dalam berhubungan dengan orang lain. Dilihat dari fungsinya, bahasa merupakan alat mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan gagasan kepada orang lain. Sehingga kegiatan yang paling banyak dilakukan manusia ketika berhubungan dengan orang lain adalah berbahasa, atau dalam bahasa masyarakat awam adalah bertutur kata. Ini diwujudkan dalam bentuk berbahasa secara formal maupun non formal. Dalam tataran formal misalnya bahasa dalam berpidato, presentasi produk, presentasi ilmiah dan lain-lain. Sedangkan berbahasa dalam bentuk non formal bisa dalam bentuk bercanda, ngerumpi, atau sekedar ngobrol-ngobrol (chating).

Dalam proses belajar-mengajar bahasa ada sejumlah variabel, baik bersifat linguistik maupun yang bersifat nonlinguistik, yang dapat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar itu. Variabel-variabel itu bukan merupakan hal yang terlepas dan berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan hal yang saling berhubungan, berkaitan, sehingga merupakan satu jaringan sistem.

Melihat semakin banyaknya  orang asing yang masuk ke Indonesia baik untuk berinvestasi maupun untuk berlibur, diantara mereka tidak sedikit yang ingin belajar berbahasa Indonesia dan mengetahui budaya kita. Namun, pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing juga menghadapi sejumlah masalah, seperti masalah perbedaan struktur bahasa dan masalah budaya. Atas dasar itulah penulis mengangkat judul “ Peranan Sosiolinguistik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Orang Asing”

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Landasan Teori

Stephen Krashen (1984) menyatakan bahwa teori pemerolehan bahasa kedua adalah bagian dari linguistik teoritik karena sifatnya yang abstrak. Menurutnya, dalam pengajaran bahasa kedua, yang praktis adalah teori pemerolehan bahasa yang baik.

Istilah pemerolehan bahasa dipakai untuk membahas penguasaan bahasa pertama di kalangan anak-anak karena proses tersebut terjadi tanpa sadar, sedangkan pemerolehan bahasa kedua (Second Language Learning) dilaksanakan dengan sadar. Pada anak-anak, error (kegalatan) dikoreksi oleh lingkungannya secara tidak formal, sedangkan pada orang dewasa yang belajar B2, kegalatan diluruskan dengan cara berlatih ulang.

Mula-mula semua proses dari tidak berbahasa (baik untuk B1 maupun B2) disebut pembelajaran bahasa (language learning). Banyak teori yang dikemukakan tentang bagaimana seorang bayi “belajar” bahasa pertamanya. Orang asing dewasa yang sudah(beberapa) B2, ketika hendak belajar Bahasa Indonesia akan menjalani proses pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pengajaran Bahasa Indonesia di dalam setting Indonesia, walaupun ketika dia sudah menguasai Bahasa Indonesia kelak, sering juga dikatakan bahwa dia telah ‘memperoleh’ (acquire) Bahasa Indonesia.

Pada dasarnya, menurut para ahli sosiolinguistik, bahasa menyangkut pilihan. Kita kemudian harus memahami apa yang dimaksud dengan konteks dengan memperhatikan baik faktor linguistik maupun ekstra-linguistik yang mempengaruhi pilihan bahasa.

Istilah konteks sering didefinisikan dengan acuan kepada situasi aktual dimana suatu peristiwa komunikasi berlangsung. Padahal jelas tidak semua yang ada pada situasi tersebut akan mempengaruhi pilihan bahasa, hingga bagi seorang sosiolinguis, ‘konteks’ terdiri dari aspek-aspek situasi yang mengaktifkan pilihan. Kita harus mengenal bahwa ‘situasi aktual’ (lihat Lyons, 1977) terdiri dari baik elemen linguistik maupun ekstralinguistik. Umumnya unsur linguistik disebut konteks linguistik dan unsur ekstralinguistik disebut konteks situasional.

Konsep mengenai kompetensi komunikatif pertama kali diperkenalkan oleh Hymes di pertengahan tahun 1960. Hymes tertarik pada tingkat kompetensi yang diperlukan penutur agar mereka mendapat keanggotaan dari komunitas ujaran tertentu. Dia meneliti mengenai faktor-faktor apa saja, terutama faktor sosio-budaya yang diperlukan selain kompetensi gramatikal oleh penutur yang terlibat di dalam interaksi bermakna. Hymes menunjukkan bagaimana variasi bahasa berkorelasi dengan norma-norma sosial dan budaya dari interaksi publik tertentu, dari peristiwa ujaran (speech event). Namun dia tidak melihat pada cara-cara spesifik dimana interaksi terjadi.

  1. B. Pembahasan Masalah

Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa yang menjadi pokok pembahasan yaitu “peranan sosiolinguistik dalam pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing

Pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing adalah bukan hal mudah. Tentunya dalam pengajaran ini juga menghadapi sejumlah masalah, seperti masalah perbedaan struktur bahasa dan masalah budaya. Sebagai contoh, pertanyaan:

“Apa kabar? Anak-anak sehat semua?” tidak mengharapkan jawaban seperti, “Oh, anak saya suka menangis dan masih ngompol. Sekarang dia sedang sakit.”

Kelebihan pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing dengan setting belajar di Indonesia cukup banyak, terutama penyediaan konteks komunikasi sehari-hari. Konteks ruang kelas, atau ruang kursus, dengan segera dapat dihubungkan dengan konteks sosial.

Jika pengajaran tersebut berlangsung di Bali, maka guru harus memikirkan untuk memperkenalkan bahasa Indonesia variasi Bali, dan bukan sekedar bahasa Indonesia formal. Kalau tidak, Si-Pelajar ketika berada di dalam masyarakat, selain akan menghadapi kesulitan seperti yang dicontohkan di atas, juga akan bingung dengan ungkapan khas bahasa Indonesia variasi Bali, seperti: . lagi dua hari. , ‘kemarin lusa’, ‘dia dapat pulang’, ‘ini dapat minta’ dan sebagainya.

Namun karena Si-Pelajar dapat segera terjun ke dalam konteks sosial komunikasi di dalam bahasa Indonesia variasi Bali, maka diharapkan dia dapat segera menyesuaikan diri dan mungkin dikoreksi oleh para penutur bahasa ini ketika mereka melakukan komunikasi.

Dari contoh singkat di atas jelaslah bahwa sosiolinguistik mempunyai peran yang sangat besar dalam pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing. Dimana seorang guru harus juga mengajarkan bahasa Indonesia sesuai dengan konteks tempat dan sosialnya bukan sekedar bahasa Indonesia formal sehingga Si pelajar tidak lagi menghadapi banyak kesulitan dalam melakukan komunikasi.

BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing haruslah memperhatikan konteks komunikasi sehari-hari. Baik konteks ruang kelas, atau ruang kursus, dengan segera dapat dihubungkan dengan konteks sosial.

  1. B. Saran

Sebaiknya dalam pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing disesuaikan juga dengan konteks sosialnya bukan sekedar bahasa Indonesia formal.

DAFTAR PUSTAKA

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus linguistic e. ketiga. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

http:/www.google.com. pengajarandanpemerolehan.htm

http:/www.google.com. sumbangan-sosiolinguistik-terhadap.html

http:/www.google.com.Sosiolinguistik%20%C2%AB%20Ngeblog%20Bareng%20Najib%20Chaqoqo.htm

http:/www.google.com.Bahasa%20Melayu%20Riau%20%20Sebuah%20Tinjauan%20Sosiolinguistik%20_%20Melayu%20Online.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: