h1

The Laskar Pelangi of Kelas Ia

Desember 28, 2009

Siang ini cuaca cukup cerah tidak seperti hari-hari sebelumnya yang dihiasi mendung bahkan rintik-rintik hujan. Jam satu siang ini saya dan teman-teman alumni kelas Ia SMAN 4 Watampone―yang sekarang ini berdomisili di Makassar―mengadakan acara temu alumni atau reunian. Jumlah pesertanya sih tidak seberapa hanya ada 10 orang lebih itu pun kalau hadir semua maklumlah semua pada sibuk dengan kesibukannya masaing-masing. Tak lama berselang saya menerima informasi, seorang teman tidak bisa hadir karna ada kegiatan yang tidak bisa ia tinggalkan. Ini berarti pesertanya akan berkurang tapi tak mengapa kata pepatah Mati Satu Tumbuh Seribu (rumput kapang kwk kwk)
Sudah setengah satu, ponselku bordering… ternyata ada pesan masuk dari Rahman, seorang teman yang sudah kerja di kantor perpajakan di Toli-toli. Hebat bukan? Masih muda tapi prestasinya luar biasa. Dia sudah berada di tempat reunian, cukup disiplin waktu untuk ukuran orang timur. Saya pun teringat ungkapan orang bijak yang mengatakan Kedisiplinan adalah dasar dimana semua kesuksesan dibangun. Sungguh luar biasa kawan. Hal-hal yang biasanya kita anggap kecil mempunyai pengaruh yang sangat besar.
Sampai disana, baru tiga orang teman yang sedang menunggu. Dua diantaranya sudah familiar di mataku. Mereka adalah Rahman dan Ritha. Satu lagi masih kabur dalam ingatanku. Gadis yang berjilbab ijo itu adalah Dian. Tidak banyak berubah pada dirinya. kawat gigi masih menghiasi gigi-giginya. Sudah jam dua, yang lainnya belum juga dating. Ada yang masih diperjalanan, ada yang sementara kuliah, bahkan ada juga yang masih di tempat kerja. Apa pun alasanya kami tetap semnagt menunggu. Tak lama kemudian muncul Vhita dengan gaya khasnya, pakaian hitam, mengingatkanku pada suku Kajang yang ada di daerah Bulukumba sana. Setelah Vhita, giliran cenceng yang datang. Dia masih seperti yang dulu, suka memakai jaket yang berukuran besar dan sifat tomboinya masih melekat pada dirinya, meskipun tomboi tapi hatinya tetap lembut kawan. Suasana semakin mencair, canda dan tawa pun tak terelakkan lagi.
Nur’ Azmi yang dijadwalkan datang jam tiga baru datang jam empat. Dia datang dengan busana muslimahnya yang berwarna ungu, warna janda, kata kebanyakan orang. Tinggal satu orang lagi yang kami tunggu. Dia adalah Darmawan. Dia masih terjebak di jalan. Teman yang satu ini sangat kharismatik kawan. Dia bak pangeran yang baru datang dari seberang. Semua yang hadir menantikannya. Akhirnya sang maestro pun tiba dengan sweater yang kelihatannya agak basah karena memang diluar sedang hujan. Semua yang ditunggu sudah hadir, hanya ada delapan orang namun tak apalah ini sudah lebih daripada cukup. Rasa bahagia pun terpancar dari teman-teman yang hadir setelah beberapa tahun kami tidak jumpa. Kebahagiaan kami sore itu mengalir bagaikan air, berhembus bagaikan angin, diiringi canda tawa dan diselingi sendau gurau.
Tahu kah kau kawan? Mereka ini adalah laskar pelangi kelas Ia dulu. Mereka adalah orang-orang hebat yang pernah dimiliki oleh kelas Ia. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai bakat dan kemampuan di atas rata-rata. Di antara kami berdelapan hanya saya yang tidak masuk peringkat sepuluh besar. Namun jangan salah kawan, saya boleh kalah peringkat tapi saya tidak boleh kalah semangat dan mimpi. Mimpi untuk pernah sekolah di Makassar dan menginjakkan kaki di tanah Jawa bahkan mimpi untuk keliling Indonesia yang kaya akan pulau dan sumber daya alam. Mimpi ini pula yang membawaku ke kota daeng ini. Bahkan seorang penulis pernah menulis dalam bukunya bahwa “ dan siapapun yang berani bermimpi berarti dia berani mewujudkannya”. Kuberi tahu satu rahasia padamu, kawan buah paling manis dari berani bermimpi adalah kejaian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya (Andrea Hirata).
Waktu begitu cepat berlalu tak terasa sudah masuk waktu magrib yang menandakan kami harus berpisah. Namun, kami telah sepakat untuk bersuah kembali dalam tiap tiga bulan. Kami pun berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing. Sampai jumpa ‘laskar pelangi’.
Jika ada empang di ladang
Boleh lah pa’de numpang mincing
Jika ada umur panjang
Boleh lah kita reunian di Jepang
See you…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: